JAKARTA: Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali menerapkan standar kesehatan bagi pelaku perjalanan udara dari luar negeri. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi masuknya kasus Hantavirus melalui penumpang internasional.
Kebijakan ini diambil setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kasus penularan Hantavirus yang menyebabkan kematian tiga penumpang kapal pesiar.
Kepala BBKK Bandara Soekarno-Hatta Naning Nugrahini menyampaikan, pengawasan dilakukan sejak awal melalui sistem deklarasi kesehatan.
“Kami di Soekarno-Hatta sudah melakukan kesiapsiagaan. Yang pertama adalah melalui isian deklarasi kesehatan di aplikasi SatuSehat. Dari situ kita nanti akan tahu risiko daripada pesawat itu, ada orang berisiko atau tidak. Yang kedua, begitu turun, itu ada pengamatan tanda dan gejala melalui thermal scanner dan observasi visual,” kata Naning dikutip Antara, Senin (11/5).
Apabila ditemukan penumpang dengan indikasi gejala, pemeriksaan akan dilanjutkan oleh tenaga medis untuk memastikan kondisi lebih lanjut.
“Kalau dari pemeriksaan memang yang bersangkutan itu probable, maka kami rujuk ke rumah sakit pusat infeksi untuk melakukan penanganan lebih lanjut. Di situ nanti akan bisa diisolasi atau dilakukan pemeriksaan laboratorium,” jelasnya.
JALUR KHUSUS DISIAPKAN UNTUK PENYAKIT MENULAR
Naning menguraikan Bandara Soekarno-Hatta telah memiliki jalur khusus untuk evaluasi penyakit menular. Fasilitas ini digunakan untuk menangani penumpang yang teridentifikasi sejak tahap awal kedatangan
Selain itu, BBKK juga menyiapkan ambulans khusus untuk penanganan pasien dengan penyakit menular.
“Kemudian kami juga punya namanya ambulans khusus penyakit menular. Karena orang yang kita bawa ini, yang mau kita rujuk ini adalah orang dengan penyakit menular,” tuturnya.
Ambulans tersebut dilengkapi sistem dekontaminasi untuk mencegah potensi penyebaran selama proses rujukan.
“Di ambulans penyakit menular ada sistem dekontaminasi sehingga virus, bakteri, atau kuman, yang berasal dari orang yang masuk di dalam ambulans yang kita curigai tadi, itu nanti bisa didekontaminasi sehingga tidak terjadi penularan ke orang lain,” lanjutnya.
BBKK juga memperketat pengawasan terhadap penumpang dari empat negara yang teridentifikasi memiliki kasus Hantavirus, yakni Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan Panama.
Hingga saat ini, Hantavirus diketahui menular dari hewan pengerat seperti tikus melalui urine, air liur, maupun kontaminasi lingkungan. Tidak ditemukan penularan dari manusia ke manusia.
Di Jakarta, Dinas Kesehatan mencatat empat kasus sepanjang 2026. Tiga pasien telah dinyatakan sembuh dengan gejala ringan, sementara satu lainnya masih berstatus suspek dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menyatakan masyarakat tidak perlu panik menghadapi kondisi tersebut.
Ia menjelaskan Hantavirus merupakan virus lama yang terus dipantau setiap tahun, dengan sumber penularan utama berasal dari tikus.
Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan, termasuk membiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, serta menggunakan masker dan alat pelindung saat berada di area yang berpotensi terkontaminasi tikus.
Sumber: CNA Indonesia

